Senin, 27 Januari 2014

5 day Mt.Semeru ( All The Dreams Come True Of Friendship )


 Mt.Semeru mengajarkan banyak hal dalam 5 hari pendakian.

Jumat 6 September 2013 pukul 13.45 WIB kita berangkat dari stasiun senin menuju kota malang ..kita berjumlah 4 orang , yaitu Gw sendiri Benk2,Anaz Zakaria,Yosef Tamaro dan Aditya

Sabtu 7 September 2013 Pukul 08.00 WIB kita tiba distasiun kota malang ,lanjut lagi menuju Pasar Tumpang menggunakan angkot. Sesampainya di Pasar Tumpang (kediaman Mba Nur),disana kita disambut dengan baik dengan pasilitas sederhana tapi penuh dengan kesan , kita bertemu para pendaki lain menunggu untuk menuju Ranu Pane dengan menggunakan truk sayur (petualangan baru saja dimulai).

                                                                   Desa Ranupani

                                                          Action dulu depan resort

Ranu Pane, desa terakhir sebelum menjajal ganasnya track Semeru berada di ketinggian 1.800 mdpl. Desa ini cukup kecil dan dingin, di sini juga terdapat danau yang besarnya sekitar 1 ha yang sering disebut Ranu Pane. Mengisi daftar pendakian selesai tepat pukul 13.00 WIB kita mulai berjalan menyusuri jalan setapak.

                                                             Danau Ranupane

                                                       Jalur menuju Ranukumbolo

Aklimatisasi medan, inilah yang harus kita lakukan setiap pendakian. Udara yang dingin, jalan menanjak dan beban yang berat membuat pernafasan sulit diatur dan terengah-engah. Sekitar 1,5 jam perjalanan kita lalui dengan banyak beristirahat. Sebelum pada akhirnya sampai di pos 1, lanjut pos 2 dan pos 3 dengan track yang naik turun melewati perbukitan. Pukul 17.50 WIB kita sampai pada pos 4 yaitu Ranu Kumbolo. di sini sudah terdapat belasan tenda dome para pendaki lain.

                                                Dalam perjalanan menuju Ranukumbolo


Ranu Kumbolo (2.400 mdpl) adalah tempat peristirahatan kita di hari pertama. Kondisi di sini cukup luas dengan pemandangan danau yang jernih nan sangat indah. Pada awalnya kita memutuskan akan melaju terus sampai Kalimati pada hari pertama, namun melihat kondisi kita yang cukup lelah dan tidak memungkinkan, akhirnya kita memutuskan untuk bermalam di sini.

                                                      Ranukumbolo in The Morning

Sekitar pukul 19.00 kondisi menjadi sangat dingin. Ini dikarenakan lokasi perkemahan berada di pinggir danau yang uap airnya banyak, dan hembusan angin cukup membuat hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Tidak ada kerjaan lain selain istirahat tidur mempersiapkan fisik untuk perjalanan besok pagi. Pagi hari, mentari tak pernah bosannya menyinari Bumi dan memberikan kehangatan setelah semalam berselimutkan hawa dingin. Makan, packing dan siap-siap melanjutkan perjalanan ke Kalimati.

                                                   Warna warni sunrise Ranukumbolo

Dalam perjalanan menuju Kalimati kita melewati tanjakan yang sering disebut Tanjakan Cinta. Dimana bila kita melewati tanjakan tersebut tanpa istirahat dan tanpa menoleh kebelakang, sambil memikirkan seseorang yang kita cintai, konon katanya orang tersebut akan menjadi kekasih kita. Setelah melewati tanjakan cinta, sampailah kita di Oro-Oro Ombo.

                                                     Padang savana Oro oro ombo

Padang savana yang sangat luas dan ditumbuhi bunga-bunga lavender & edelweiss, namun sayangnya pada musim kemarau ini bunga-bunga tidak banyak yang mekar. Setelah itu kita melewati hutan pinus dan sampailah di padang rumput Jambangan. Di lokasi ini Puncak Mahameru terlihat begitu jelas

                                                  Mahameru menunjukan keangkuhan'y

Tepat pukul 16.30 WIB, sampailah kita di Kalimati (2.700 mdpl). Kondisi di Kalimati berupa hamparan padang rumput dengan tumbuhan semak dan hamparan edelweiss seluas sekitar 20 ha. Lokasi ini merupakan pemberhentian terakhir sebelum melakukan pendakian menuju Puncak Mahameru. Di sini kita bertemu rekan-rekan pendaki asal jakarta (tetangga rumah) mereka Fajar dkk ,mereka lebih awal track summit mahameru dan ingin melanjutkan turun untuk beristirahat di Ranukumbolo .. tempat pukul 17.00 kita mendirikan tenda untuk istirahat dan untuk melanjutkan track summit mulai pukul 23.00 WIB malam nanti.

Karena memang diperkirakan, dari Kalimati menuju Puncak Mahameru memerlukan waktu sekitar 6-7 jam perjalanan. Sore itu kita habiskan dengan bercanda dan ngobrol tentang Semeru Dan pada pukul 22.00 WIB waktunya kita masak,makan dan mempersiapkan logistik untuk persiapan ujian pendakian Semeru yang sebenarnya.

Tepat pukul 23.00 WIB perjalanan kita mulai dengan 4 personel, kita melangkah pasti menuju puncak abadi para dewa. Track yang dilalui hanya ada tanjakan yang berdebu dengan kemiringan sekitar 45-55 derajat dengan suhu di bawah 20 derajat celcius. Dalam 1,5 jam perjalanan sampailah kita di Arcopodo, di ketinggian sekitar 2.900 mdpl. Di sinilah batas terakhir vegetasi, dan setelah itu kita disajikan hamparan pasir dan debu dengan kemiringan 60-80 derajat menuju puncak.

Dari batas terakhir vegetasi hingga puncak, kita membutuhkan waktu sekitar 4 jam merayap di pinggir jurang yang sangat curam. Tidak ada pikiran lain selain kita harus memikirkan puncak, inilah ujian sesungguhnya dari Semeru. Soal kegigihan, kesabaran, semangat dan keyakinan pada diri sendiri harus tetap menjadi pedoman dalam mendaki puncak ini. Tidak lain tidak bukan, karena medannya yang curam dan berpasir membuat kita melangkah 5 langkah, dan akan merosot 3 langkah. Hal itu dilakukan selama kurang lebih 4 jam.

                                                                 Track Summit

Tepat pukul 07.40 wib rasa lelah dan rasa capek terbayar lunas pada saat kita menjejakkan kaki di tanah tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru (3.676 mdpl). Pemandangan yang sangat menakjubkan dengan beberapa kali semburan asap beracun dari Kawah Jonggring Seloka yang dilontarkan setiap 15-30 menit sekali itu membuat Puncak Mahameru merupakan puncak yang mempunyai keunikan dan tantangan tersendiri. Dan di sinilah terdapat in memoriam Soe Hok Gie dan Idham Lubis yang merupakan korban di Gunung Semeru pada tanggal 16 desember 1969.

                                                    Puncak mahameru bersama Sahabat

                                                            Hasil dari ke disiplinan

Tak terasa sudah 2 jam kita berada di tanah tertinggi di Pulau Jawa, sebelum akhirnya pada pukul 09.40 WIB kita menuruni puncak. Di puncak kita hanya diperbolehkan hingga pukul 10.00 WIB pagi, karena setelah itu arah angin akan berubah dan dapat membawa asap beracun tersebut ke arah kita. Menuruni Puncak Mahameru kita hanya memerlukan waktu 30 menit saja dengan seperti berselancar di pasir. Bayangkan saja, mendaki memerlukan waktu 4-5 jam, namun saat turun kita hanya membutuhkan waktu 30 menit? Sangar.


Sesampainya di Kalimati kita istirahat beberapa jam hingga kita bergegas masak dan makan, kemudian packing dan bersiap ke Ranu Kumbolo . tepat pukul 18.30 wib kita sampai di Ranu Kumbolo untuk istirahat dan bertemu tetangga rumah yang sudah menunggu kita .. karna esok kita pagi akan turun menuju ranupani hingga tumpang dan tak sengaja kita semua akan pulang ke jakarta dengan hari,jam,kereta dan gerbong yang sama

                                                             Sunrise Ranukumbolo

                                              Sisi lain keindahan dari danau Ranukumbolo

Pukul 10.00 WIB kita semua berangkat menuju Ranu Pane ,sampai disana kita daftar ulang untuk memastikan kita semua udah selesai dalam pendakian Mt.Semeru dengan keadaan sehat namun sangat letih dan kecapekan. Di sana kita istirahat sejenak untuk makan dan membeli ole2 Mt.Semeru ,, setelah selesai disana sudah ditunggu truk yang akan mengantarkan kita ke tumpang, tepat pukul 19.30 kita sampai ditumpang dan kami pun berpencar untuk istirahat ,fajar dkk memilih untuk ke basecamp pertama dia sedangkan kita kembali kekediaman Mba Nur .. Setelah beristirahat agak lumayan panjang tepat pukul 12.00 - 13.00 kita packing dan kumpul kembali untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.

Benar-benar 5 hari yang cukup mengesankan. kita semua berhasil menaklukkan diri sendiri untuk mendaki puncak abadi para dewa, Mahameru, dan bisa melihat sisi lain keadaan manusia yang berada di sana. Bangsa yang besar tidak akan kehilangan seorang pemimpin jika pemuda-pemudanya sering bertualang ke hutan, gunung dan lautan. Pepatah itu cukup menggetarkan hati saya bahwa masih banyak hari-hari esok untuk melakukan petualangan yang hebat dan dapat mengasah diri pribadi menjadi jiwa yang tangguh dan tahan banting. Bersama alam jiwa ini aku pertaruhkan, dan bersama rakyat-rakyat pedesaan hati ini aku satukan.

Salam lestari ... 

PERUBAHAN DARAH (Blood Changes) PENGGIAT ALAM


PERUBAHAN DARAH (BLOOD CHANGES)

Erythropoietin / EPO mendorong sumsum tulang menghasilkan lebih banyak sel darah merah (yg tugasnya membawa oksigen). Hormon ini dihasilkan oleh ginjal kalau terjadi level oksigen yg rendah. Dalam 4-5 hari, sel darah merah yg baru itu masuk ke sirkulasi. Setelah beberapa minggu di ketinggian, tubuh terus memproduksi sel darah merah untuk membawa oksigen dari paru2 ke lapisan tubuh yg memerlukan. Darah ini juga mengalami perubahan kimiawi supaya oksigennya tetap menetap di paru2.


Ini mendorong saturasi oksigen atau jumlah oksigen yg dibawa tiap sel darah merah semakin meningkat.




PERUBAHAN JARINGAN (TISSUE CHANGES)

Untuk meningkatkan pengiriman oksigen, tubuh meningkatkan jumlah saluran darah/kapiler di dalam otot. Ukuran otot ini juga kian mengecil sehingga jarak yang ditempuh oksigen ke otot semakin berkurang.

PERUBAHAN TIDUR (SLEEP CHANGES)

Sudah biasa kalau kita sulit tidur jika berada di ketinggian. Biasanya pernafasan dikontrol oleh tingkat karbon dioksida dalam darah. Kalau tingkatnya naik, otak menyuruh kita bernafas. Kalau tingkat oksigen menurun, otak juga menyuruh kita bernafas. Saat kita bernafas dgn cepat di ketinggian, semakin banyak karbon dioksida yg dihembuskan – otak merasakan tingkat yg rendah – kita berhenti bernafas.

Saat oksigen menurun dari tidak adanya nafas itu, otak menyuruh kita kembali bernafas sehingga kita bernafas dan menghembuskan lagi karbon dioksida. Jadilah seperti satu lingkaran yg tak berujung.

Fase tak bernafas tadi bisa mencapai 30 detik atau lebih. Istilahnya periodic breathing dan umum terjadi selama aklimatisasi. Ini tentu bisa mengganggu pola tidur yg normal. Mungkin kita pernah tiba2 bangun karena merasa tercekik dan perlu sekali bernafas lagi. Saat aklimatisasi berlanjut, fenomena ini akan berkurang tapi tidak akan menghilang sepenuhnya.

Obat Acetazolimide / Diamox bisa menurunkan periodic breathing dan sering dipakai membantu untuk bisa tidurselama aklimatisasi.